English | Bahasa Indonesia

Detail Berita

lima mahasiswa PNUP menghadirkan Q-Cow sebagai solusi pertanian berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular.

19 Aug 2026 - 14:56 WITA · 19 Aug 2026 - 15:00 WITA · PUBLIC RELATION · 92

(HumasPNUP) - Limbah peternakanss yang selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan justru berhasil diubah menjadi peluang kewirausahaan oleh sekelompok mahasiswa di Sulawesi Selatan. Melalui inovasi Q-Cow: Green Fertilizer Berbasis Kotoran Burung Puyuh dan Sapi sebagai Pupuk Organik Kaya Nutrisi, lima mahasiswa mengembangkan usaha yang mengolah limbah peternakan menjadi produk pertanian bernilai ekonomi.

Q-Cow hadir dengan membawa konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Bahan baku utama berupa kotoran sapi dan burung puyuh diperoleh dari wilayah Kabupaten Maros dan Gowa yang kemudian diolah menjadi tiga produk utama, yaitu pupuk kompos organik, Pupuk Organik Cair (POC), dan media tanam siap pakai.

Mengubah Masalah Lingkungan Menjadi Peluang Bisnis

Proses fermentasi memungkinkan bahan organik terurai dalam waktu sekitar 2–4 minggu. Hasil akhirnya berupa pupuk kompos dengan tekstur remah, tidak berbau menyengat, serta mengandung unsur hara makro seperti N, P₂O₅, dan K₂O.

Bagi tim Q-Cow, inovasi tersebut tidak berhenti pada menghasilkan produk. Mereka berupaya membangun model bisnis yang menghubungkan peternak sebagai pemasok bahan baku dengan petani, penghobi tanaman, dan pelaku urban farming sebagai konsumen.

Dari Hilirisasi Riset Menjadi Usaha

Ketua Tim Q-Cow, Siti Amalia, mengatakan bahwa gagasan tersebut lahir dari keinginan untuk memberikan nilai tambah terhadap sumber daya lokal sekaligus menciptakan peluang usaha yang memiliki dampak terhadap lingkungan.

“Kami mengusung semangat Green Today, Harvest Tomorrow. Limbah kotoran sapi dan puyuh yang selama ini belum terkelola secara optimal kami olah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Kami ingin membuktikan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi peluang untuk membangun usaha yang berkelanjutan,” ujar Siti Amalia.

Menurutnya, Q-Cow tidak hanya menawarkan produk pupuk, tetapi juga membawa konsep “dari peternak ke petani” dengan memanfaatkan sumber daya lokal sebagai bagian dari rantai nilai usaha. Model tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dengan peternak sekaligus memberikan alternatif produk pertanian bagi masyarakat.

Pengembangan Q-Cow juga diarahkan sebagai bentuk hilirisasi hasil riset perguruan tinggi. Dukungan dosen dan fasilitas laboratorium menjadi bagian penting dalam pengembangan formulasi, pengujian mutu, serta optimalisasi proses produksi agar produk yang dihasilkan semakin terstandar.

Lima Mahasiswa, Satu Visi Kewirausahaan

Usaha Q-Cow dijalankan secara kolaboratif oleh lima mahasiswa dengan pembagian peran yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Siti Amalia bertanggung jawab sebagai Chief Executive Officer (CEO), Rizky Aurivia sebagai Chief Operating Officer (COO), Widyawati sebagai Chief Marketing Officer (CMO), Dela Viola sebagai Chief Financial Officer (CFO), dan Muh. Akbar Syakir sebagai Chief Technology Officer (CTO). Tim tersebut memperoleh pendampingan dari Dr. Andi Muhammad Iqbal Akbar Asraf, S.T., M.T. dalam pengembangan usaha dan aspek teknis produk.

Membangun Bisnis Hijau dari Potensi Lokal

Lebih dari sekadar mengolah kotoran ternak menjadi pupuk, Q-Cow menunjukkan bahwa kewirausahaan mahasiswa dapat menjadi jembatan antara inovasi, persoalan lingkungan, dan peluang ekonomi. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk bernilai jual, sementara peternak dan masyarakat mendapatkan peluang untuk masuk dalam ekosistem usaha yang lebih berkelanjutan.

Dengan semangat “Green Today, Harvest Tomorrow”, Q-Cow membawa pesan bahwa membangun bisnis tidak selalu harus dimulai dari sumber daya baru. Peluang usaha juga dapat tumbuh dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah.


@poltek_upg