Inovasi VERTOKA: Solusi Mahasiswa PNUP Sulap Okara Jadi Ladang Rupiah bagi UMKM Industri Tahu di Jeneponto
(HumasPNUP) - Di balik aktivitas industri tahu P’Eko di Jeneponto, yang setiap hari menghasilkan sekitar 600 – 720 kilogram okara (ampas), tersimpan peluang sumber daya yang belum banyak dimanfaatkan. Selama ini, tumpukan limbah okara hanya dipandang sebelah mata dan dijual dengan harga murah, yakni sekitar Rp. 400 per kilogram.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) melalui Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan IPTEK (PKM-PI) menghadirkan alat VERTOKA (Vertikal Komposter Berbasis Fermentasi - Maggot) sebagai inovasi pengolahan limbah yang dapat mengubah okara menjadi produk bernilai ekonomi. Sistem kinerja VERTOKA dengan memanfaatkan proses fermentasi dan budidaya maggot untuk mengolah okara menjadi beberapa produk sekaligus: maggot segar, pelet ikan, kompos, dan pupuk organik cair (POC).
“Melalui VERTOKA, kami ingin menunjukkan bahwa okara tidak harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengolahan yang tepat, okara dapat menjadi sumber daya yang kembali masuk ke dalam rantai ekonomi dan menghasilkan produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Iffa sebagai ketua Tim
Kehadiran VERTOKA membuka cara pandang baru bagi pengrajin tahu bahwa peluang keuntungan tidak hanya datang dari tahu sebagai produk utama. Limbah yang dulunya tidak diperhitungkan kini justru bisa menjelma menjadi sumber pemasukan tersendiri, dengan lonjakan nilai dari Rp. 400 dapat mencapai Rp. 4000 per kilogram artinya terjadi peningatan sekitar 10 kali lipat.
Respons positif datang dari Pak Budi Eko, selaku mitra UMKM yang merasakan langsung manfaat alat VERTOKA. Dukungan tersebut semakin memantapkan tekad tim PKM-PI agar VERTOKA tidak hanya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi benar-benar dipakai secara berkelanjutan dalam produksi harian, mengingat volume okara yang harus diolah mencapai 600 - 720 kilogram setiap hari.
Melalui karya Inovasi VERTOKA, mahasiswa PNUP membuktikan bahwa dampak besar tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Selama solusi dirancang sesuai kebutuhan nyata masyarakat dan disertai pendampingan yang konsisten, limbah sesederhana okara pun mampu bertransformasi menjadi peluang ekonomi baru bagi pengrajin tahu P’Eko di Jeneponto.
Di balik alat VERTOKA, ada kerja sama lintas disiplin ilmu yang solid. Iffah Nafisa Az-zahra dari Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Berkelanjutan memimpin tim, didampingi Muhammad Faturrahman (Teknik Mesin) yang menggarap sisi konstruksi dan mekanik alat, Juan Elieser Patabang bersama Putry Indah Sari (Teknik Kimia) yang mengurus proses fermentasi dan pengolahan, serta Muh Sahril (Teknik Elektro) yang menangani sistem sensor. Seluruh proses pengembangan alat ini berada di bawah bimbingan Dr. Rahmiah Sjafruddin, S.T., M.Eng.









