PAREDE BUGIS PNUP: Ubah Kelapa Tua Jadi Empat Produk Bernilai Ekonomi
(HumasPNUP) — Kelapa tua yang selama ini dibiarkan menumpuk, bertunas, bahkan membusuk di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, kini mulai dilirik sebagai peluang ekonomi baru. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) PAREDE BUGIS, mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) mengajak masyarakat mengolah kelapa tua menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual.
Program ini berangkat dari potensi kelapa di Kabupaten Maros yang mencapai sekitar 251,7 ton per tahun, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Di Desa Nisombalia, sebagian kelapa tua bahkan berakhir sebagai limbah karena tidak mendapat pengolahan lanjutan.
Bagi tim PAREDE BUGIS, kondisi tersebut justru menjadi peluang. Tim menggandeng Karang Taruna Desa Nisombalia sebagai mitra utama, karena dinilai berpotensi menjadi penggerak kegiatan sekaligus kader lokal yang dapat melanjutkan keterampilan setelah program mahasiswa berakhir.
Bersama mitra, tim mengembangkan empat produk olahan kelapa: Minyak Parede, Virgin Coconut Oil (VCO), Kerak Minyak, dan Bajabu (abon kelapa). “Kami tidak ingin melihat kelapa hanya sebagai bahan mentah yang dijual atau dibiarkan menjadi limbah. Prinsipnya sederhana, yang sebelumnya dianggap sisa kita ubah menjadi nilai,” ujar Ketua Tim PAREDE BUGIS, Miftah Farid.
Pendekatan ini memberi manfaat ganda: masyarakat memperoleh keterampilan baru dalam mengolah kelapa, sekaligus peluang mengembangkan produk lokal yang berpotensi dipasarkan sebagai sumber tambahan pendapatan.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim PAREDE BUGIS bersama Karang Taruna melaksanakan diseminasi hasil dan pengetahuan kepada masyarakat Desa Nisombalia pada Agustus 2026 di Kantor Desa Nisombalia, mencakup pemanfaatan kelapa tua, proses pengolahan, hingga pengembangan produk bernilai ekonomi.
“Bagi kami, keberhasilan program bukan hanya ketika empat produk berhasil dibuat. Yang lebih penting adalah ketika setelah mahasiswa kembali ke kampus, masyarakat tetap memiliki pengetahuan, alat, kader, dan sistem untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai bersama,” tutup Miftah.






