English | Bahasa Indonesia

Detail Berita

Belajar dari Persoalan Nyata: Mahasiswa ALKS PNUP Terapkan Problem-Facing Education

28 Jul 2026 - 10:59 WITA · 28 Jul 2026 - 13:59 WITA · PUBLIC RELATION · 64

(HumasPNUP) – Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah (ALKS), Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), mengembangkan model pembelajaran yang membawa mahasiswa langsung ke tengah persoalan nyata masyarakat. Melalui mata kuliah Pengembangan Kepribadian Islam, 20 mahasiswa Prodi ALKS menerapkan pendekatan Problem-Facing Education (Pendidikan Hadap-Masalah) untuk mengasah karakter akuntan Islami sekaligus memberi kontribusi konkret bagi lingkungan sekitar kampus.

Mata kuliah ini diampu oleh Dr. Dien Triana, S.E., M.Si. dan Andi Sri Wahyuni, S.E., M.Si., Ph.D., Akt. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep karakter akuntan Islami di kelas, tetapi juga berkolaborasi dengan masyarakat untuk mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, melaksanakan aksi, dan merefleksikan hasilnya bersama.

Setelah berdiskusi mengenai nilai-nilai Islami yang harus dimiliki seorang akuntan, mahasiswa dan dosen menyepakati dua isu prioritas yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat Kota Makassar: kemiskinan perkotaan dan ekonomi sirkular.

Untuk isu kemiskinan perkotaan, mahasiswa bermitra dengan Komunitas Lauk-Pauk Makassar menyalurkan bantuan kebutuhan pokok kepada panti asuhan dan keluarga prasejahtera di kawasan permukiman padat penduduk, sekaligus belajar mengelola dana donasi.

Kelompok lain mengangkat isu ekonomi sirkular dengan menginisiasi pengumpulan botol plastik bekas di lingkungan kampus PNUP, yang kemudian disalurkan kepada pemulung. Kegiatan ini menumbuhkan kesadaran sivitas akademika akan pentingnya pengelolaan sampah dan ekonomi berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, dosen berperan sebagai fasilitator yang menjembatani teori dan praktik, sementara masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek kegiatan, melainkan mitra pembelajaran yang turut berbagi pengetahuan. Mahasiswa pun mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, empati, dan tanggung jawab sosial — bahkan mendorong motivasi intrinsik untuk terus berkontribusi setelah mata kuliah berakhir.

Bagi PNUP, pendekatan ini memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus mempererat kemitraan dengan masyarakat. Bagi komunitas, kolaborasi ini meningkatkan kapasitas mereka menyelesaikan persoalan secara mandiri dan membuka jejaring kemitraan berkelanjutan.

Koordinator Program Diploma ALKS, Zoel Dirga, S.E., M.Si., Akt., menyampaikan bahwa Prodi ALKS ingin mencetak lulusan yang tak sekadar mahir menyusun laporan keuangan syariah, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual dan kepekaan sosial.

Ia menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa turun langsung ke panti asuhan dan keluarga prasejahtera merupakan wujud nyata implementasi ekonomi syariah yang berlandaskan nilai keadilan dan ta'awun (tolong-menolong). Menurutnya, calon akuntan syariah harus peka terhadap ketimpangan ekonomi di sekitarnya, dan empati tersebut dibentuk melalui pengalaman langsung, bukan sekadar konsep.

Ia juga mengapresiasi inisiatif mahasiswa menangani isu sampah kampus, seraya mengaitkannya dengan prinsip menjaga lingkungan sebagai amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ia menyebut tren Green Accounting dalam dunia profesi sebagai alasan pentingnya menanamkan kesadaran pengelolaan limbah sejak masa kuliah.

"Harapan saya, proyek-proyek sosial seperti ini tidak berhenti hanya sebagai pemenuhan tugas mata kuliah. Saya berharap nilai-nilai kepedulian ini menjadi karakter permanen (akhlaqul karimah) yang mereka bawa ke dunia kerja profesional, sehingga menghadirkan kemaslahatan (rahmatan lil 'alamin) bagi masyarakat luas," ujarnya.


@poltek_upg