English | Bahasa Indonesia

Detail Berita

Transformasi Limbah Sekam Padi Menjadi Pakan Fermentasi Kaya Nutrisi sebagai Embrio Wirausaha Muda di Desa Maggenrang

11 Sep 2026 - 11:04 WITA · 11 Sep 2026 - 12:53 WITA · PUBLIC RELATION · 65

(HumasPNUP) - Limbah sekam padi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di Desa Maggenrang, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dikembangkan menjadi produk bernilai guna melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tim SEKATA dari Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP).

 

Program tersebut diketuai oleh Kyrbie Yoga Sembara bersama anggota tim Rifad, Detrin, Syera, dan Fitria, dengan dosen pembimbing Dr. Andi Muhammad Asfar, S.T., M.T. Tim SEKATA menghadirkan inovasi berupa pengolahan limbah sekam padi menjadi pakan ternak fermentasi kaya nutrisi serta bio-briket sebagai bahan bakar alternatif.

 

Inovasi ini diarahkan tidak hanya untuk mengurangi limbah pertanian, tetapi juga meningkatkan potensi ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

 

Desa Maggenrang merupakan salah satu wilayah penghasil padi yang menghasilkan limbah sekam dalam jumlah besar setiap musim panen. Dalam materi program disebutkan bahwa sekam padi selama ini masih ditumpuk, dibakar, atau dibuang sehingga belum memberikan nilai ekonomi secara optimal bagi masyarakat.

 

Melalui program PKM-PM, Tim SEKATA memperkenalkan pendekatan pemanfaatan limbah dengan mengolah sekam menjadi dua produk. Sebagian sekam dimanfaatkan sebagai bahan pakan fermentasi, sedangkan material yang tersisa diarahkan untuk diproses menjadi bio-briket sebagai bagian dari konsep zero waste.

 

Pengolahan sekam menjadi pakan dilakukan dengan menerapkan metode Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF). Metode tersebut merupakan proses sakarifikasi dan fermentasi yang berlangsung secara bersamaan dalam satu wadah.

 

Dalam program ini, metode SSF digunakan untuk membantu menguraikan struktur serat kasar pada sekam sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas nutrisi dan membuat bahan lebih mudah dicerna oleh ternak.

 

Program tidak hanya berfokus pada teknologi pengolahan limbah. Tim SEKATA juga melibatkan masyarakat, khususnya anggota Karang Taruna Padaelo, melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA).

 

Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yakni penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Peserta mendapatkan materi mengenai pengolahan sekam padi, praktik pembuatan pakan fermentasi dan bio-briket, pengemasan produk, pemasaran digital melalui marketplace, serta pengelolaan keuangan sederhana.

 

Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan teknis sekaligus mendorong terbentuknya unit usaha Karang Taruna sehingga pemanfaatan sekam padi dapat terus dikembangkan setelah program selesai.

 

Program ini memberikan manfaat bagi sejumlah pihak. Bagi Karang Taruna Padaelo dan pemuda Desa Maggenrang, kegiatan ini membuka ruang peningkatan keterampilan teknis pengolahan limbah serta mendorong terbentuknya unit usaha yang dapat menjadi embrio wirausaha muda. Bagi masyarakat Desa Maggenrang secara umum, program ini menghadirkan alternatif pemanfaatan sekam padi yang selama ini terbuang menjadi pakan fermentasi dan bio-briket bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi pencemaran akibat pembakaran terbuka. Dari sisi lingkungan, penerapan konsep zero waste mendukung pengelolaan limbah pertanian yang lebih berkelanjutan. Sementara itu, bagi PNUP, kegiatan ini memperkuat peran mahasiswa Tim SEKATA dan dosen pembimbing dalam pengabdian kepada masyarakat berbasis inovasi teknologi tepat guna, sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi terhadap ketahanan pakan dan pemberdayaan ekonomi desa.

Program ini sekaligus mengusung semangat zero waste, yaitu memaksimalkan pemanfaatan limbah agar tidak berhenti sebagai bahan buangan, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.

 

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, Tim SEKATA berharap inovasi pemanfaatan sekam padi tersebut dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan di wilayah lain yang memiliki potensi limbah pertanian serupa.


@poltek_upg